Hendrakomara's Blog

Just another WordPress.com weblog

Makalah Tarekat

Posted by hekom pada Mei 8, 2011

TAREKAT

 

  1. A.           Definisi Tarekat

Tarekat berasal dari bahasa Arab “tharikah” jamaknya “taraiq” secara etimologis berarti (1) jalan, cara (al-kaifiyah), (2) metode, sistem (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halal), (5) pohon kurma yang tinggi (an-nakhlah aththawillah), (6) tiang tempat berteduh, tongkat payung (amud al-mizallah), (7) yang mulia, terkemuka dari kaum (syarif al-qaum) dan (8) goresan/garis pada sesuatu (al-khathth fi asy-syay).[1]

Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat. Sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq, kata turunan ini menunnjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum illahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tak mungkin ada anak jalan tanpa ada jalan utama tempat berpangkal, pengalam mistik tak mungkin di peroleh bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati terlebih dahuulu dengan seksama.[2] Dengan kata lain tarekat adalah perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.[3]

Mengenai pengertian diatas Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, “Tarekat adalah mengamalkan syariat, melaksanakan bebab ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.

Sementara itu Harun Nasution, menyatakan bahwa tarekat berasal dari kata tariqah yaitu jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi dalam tujuannya berada sedekat mungkin dengan Allah. Thariqh kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Tiap tarekat mempunyai syekh, upacara ritual, dan bentuk dzikir masing-masing.[4]

Sejalan dengan ini maka Martin Van Bruinessen menyatakan istilah tarekat , paling tidak dipakai untuk dua hal yang secara konseptual berbeda. Makananya yang asli merupakan paduan yang khas dari doktrin, metode, dan ritual. Akan tetapi, istilah ini pun sering dipakai untuk mengacu pada organisasi yang menyatukan pengikut-pengikut jalan tertentu. Di timur tengah istilah ta’ifah terkadang lebih disukai untuk organisasi sehingga lebih mudah membedakan antara yang satu dengan yang lain. Akan tetapi di indonesia kata tarekat mengacu pada keduanya.[5]

L.Massignon, salah seorang peneliti tasawuf di berapa negara muslim, berkesimpulan bahwa istilah tarekat mempunyai dua pengertian:

pertama, tarekat merupakan pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian, yang disebut al-maqamat dan al- akhwal. Pengertian ini menonjol sekitar abad ke-9 dan ke-10 Masehi.

Kedua, tarekat merupakan perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang syekh yang menganut suatu aliran tertentu. Dalam perkumpulan itulah seorang syekh yang menganut suatu tarekat yang dianutnya, lalu mengamalkan aliran aliran tersebut bersama dengan murid-muridnya, pengertian dan definisi ini menonjol ketika abad ke-9 Masehi.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama tarekat berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adanya lembaga formal, seperti zawiyah, ribatah, atau khanaqah.

  1. B.            Sejarah Timbulnya Tarekat

Menurut Hamka tarekat yang pertama kali muncul adalah tarekat Thaifuriyah pada abad ke-9 Masehi di Persia sebagai suatu lembaga Pengajaran Tasawuf. Tarekat tersebut dinasabkan kepada Abu Yazid al-Busthami karena pahamnya bersumber dari ajaran Abu Yazid, pendapat ini dapat diperkuat dengan kenyataan bahwa tarekat-tarekat yang muncul di Persia terutama daerah Hurazon, pada umumnya menganut paham  Bayazid.[6]

Sejarah islam menunjukan bahwa tarekat-tarekat sejak bermunculan pada abad ke-12 (abad ke-6 H), mengalami perkembangan pesat. Dapat dikatakan bahwa dunia islam sejak abad berikutnya (1317 H),pada umumnya dipengaruhi oleh tarekat. Tarekat-tarekat tampak memegang peranan yang cukup besar dalam menjaga eksistensi dan ketahanan umat islam, setelah mereka dilabrak secara mengerikan oleh gelombang-gelombang serbuan tentara Tartar ( kota Bagdad dimusnahkan tentara Tartar itu pada 1258 M atau 656 H). Sejak penghancuran demi penghancuran yang dilakukan oleh tentara Tartar itu, islam yang diperkirakan akan lenyap, tetapi mampu bertahan, bahkan dapat merembes memasuki hati turunan para penyerbu itu dan memasuki daerah-daerah baru. Pada umumnya sejak kehancuran kota Bagdad para anggota tarekatlah yang berperan dalam penyebaran islam. Tarekat-tarekatlah yang menguasai kehidupan umat islam selama zaman pertengahan sejarah islam (abad ke-13 samapi abad ke-18 atau ke-17 sampai 12 H). Pengaruh tarekat mulai mengalami kemunduran, serangan-serangan terhadap tarekat yang dulunya dipelopori oleh Ibnu Taimiyah (w. 1327 M/ 1728) terdengar semakin gencar dan kuat pada masa modern. Tokoh-tokoh pembaharu dalam dua abad terakhir ini pada umumnya memandang bahwa salah satu diantara sebab-sebab mundur dan lemahnya umat islam adalah pengaruh tarekat yang buruk, antara lain menumbuhkan sikap taqlid, sikap fatalistis, orientasi yang berlebihan kepada ibadah dan akhirat, dan tidak mementingkan ilmu pengetahuan.

  1. C.           Aliran-aliran Tarekat di Dunia Islam

Dari sekian banyak tarekat yang pernah muncul sejak abad ke-12 (abad ke-6 H) itu antara lain :

  1. Tarekat Qadiriyah, (dihubungkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang wafat di Irak pada 1161 H) yang mempunyai penganut di Irak, Turki, Turbekistan, Sudan, Cina, India, dan Indonesia.
  2. Tarekat Syadziliah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Asy-Syadzili, yang wafat di Mesir pada 1258 M), yang mempunyai pengikut di Mesir, Afrika Utara, Syiria, dan Negri-negri Arab lainnya. Pokok-pokok ajarannya antara lain :
    1. Bertaqwa kepada Allah ditempat sunyi dan ramai
    2. Mengikuti sunnah dalam segala perkataan dan perbuatan
    3. Berpaling hati dari makhluk waktu berhadapan dari waktu membelakangi
    4. Kembali kepada Allah diwaktu senang dan susah[7]
    5. Tarekat Rifaiyah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Ar-Rifai, yang wafat di Mesir pada 1182 M), yang mempunyai pengikut di irak dan di Mesir.
    6. Tarekat Naqsabandiyah (dihubungkan kepada Syekh Bahaudin Naqsabandi yang wafat di Bukhara pada 1389 M), yang mempunyai pengikut di Asia Tenggara, Turki, India, Cina, dan Indonesia. Ciri-ciri  tarekat Naqsabandiah antara lain :
      1. Berpegang teguh kepada aqidah ahlusunnah
      2. Meningggalkan ruqsah
      3. Memilih hokum-hukum yang azimah
      4. Senantiasa dalam muraqabah
      5. Tetap berhadapan dengan Tuhan
      6. Menghasilkan malakah hudhur (menghadirkan Tuhan dalam hati)
      7. Menyendiri ditengah keramaian serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah
      8. Berpakaian dengan pakaian mukmin biasa
      9. Zikir tanpa suara[8]
      10. Tarekat Syatarriyah, (dihubungkan kepada Syekh Abdullah Asy-Sattari yang wafat di india pada 1236 M), yang mempunyai pengikut India dan Indonesia.
  1. D.           Kriteria Murid untuk Menjalankan Tarekat

Guru dalam tarekat yang sudah melembaga itu selanjutnya disebut Mursyid atau Syekh, dan wakilnya disebut Khalifah. Adapun pengikutnya disebut murid. Sedangkan tempatnya disebut ribath atau zawiyah atau taqiyah.

Selain itu tiap tarekat juga memiliki ajaran dan juga amalan wirid tertentu, simbol-simbol kelembagaanya, tata tertibnya dan upacara-upacara lainnya yang membedakan antara tarekat yang satu dengan tarekat yang lainnya. Menurut ketentuan tarekat pada umumnya bahwa seorang syekh sangat menentukan terhadap muridnya, keberadaan murid di hadapan gurunya ibarat mayit atau bangkai yang tak berdaya apa-apa. Dan karena ini tarekat merupakan jalan yang harus dilalui untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka orang yang menjalankan syariat dan si murid harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syariat agama
  2. Mengamati dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak dan guru, dan melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya
  3. Tidak mencari-cari keringanan dalam beramal agar tercapai kesempurnaan yang hakiki
  4. Berbuat dan mengisi waktu seefisien  mungkin dengan segala wirid dan doa guna memantapkan dan kekhusuan dalam mencapai maqomat yang lebih tinggi
  5. Memegang hawa nafsu agar terhindar dari kesalahan yang dapat menodai amal.[9]
  1. E.            Kedudukan Tarekat dalam Empat Tingkatan Spiritual

Bagan empat tingkatan spiritual umum dalam islam, yaitu syariat, tariqah atau tarekat, dan hakikat. Tingkatan ke empat ma’rifat, tingkatan yang tak terlihat sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari empat tingkatan spiritual tersebut.[10]

  1. F.            Tata Cara Pelaksanaan Tarekat

Tata cara pelaksanaan tarekat antara lain :

  1. Dengan Zikir, yaitu ingat yang terus menerus kepada Allah dalam hati secara menyebutkan namanya dengan liasan, zikir ini berguna sebagai alat kontrol bagi hati, ucapan dan perbuatan agar tidak menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan Allah
  2. Ratib, yaitu mengucapkan lapad La Illaha Illallah dengan gaya, gerak dan irama tertentu
  3. Musik, yaitu dalam membacakan wirid-wirid dan syair-syair tertentu diiringi dengan bunyi-bunyian (instrumental) seperti memukul rebana
  4. Menari, yaitu gerak yang dilakukan mengiringi wirid-wirid dan bacaan tertentu untuk menimbulkan kehidmatan
  5. Bernafas, yaitu mengatur cara bernafas pada waktu melakukan zikir tertentu. Selain itu Mustafa Zahri mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan tarekat sebagaimana disebutkan diatas, perlu mengadakan latihan batin, riadah dan mujahadah (perjuangan kerohanian). Perjuangan seperti itu dinamakan pula suluk dan yang mengerjakannya di sebut salik.[11]
  1. G.           Tujuan Adanya Tarekat

Tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesutu ibadah sesuai dengan agarna yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dikerjakan oleh sahabat-sahabatnya, tabiin secara berantai sampai pada masa kita ini.

Lebih khusus lagi tarekat dikalangan sufiyah berarti sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak dikir dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu dengan dan bersatu secara ruhiyah dengan tuhan.[12] jalan dalam tarekat itu antara lain terus-menerus berada dalam zikir atau ingat terus kepada Tuhan, Dan terus-menerus menghindarkan diri dari sesuatu yang melupakan Tuhan.

Harun nasution mengatakan tarekat ialah jalan yang harus di tempuh oleh seorang sufi dalam tujuan berada sedekat mungkin dengan tuhan.[13] Hamka mengatakan bahwa diantara makhluk dan khalik itu ada perjalan hidup yang harus ditempuh, inilah yang kita katakan tarekat.[14]

Dengan memperhatikan berbagai pendapat tersebut diatas, kiranya dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan tarekat adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seorang sufi yang didalamnya berisi amalan ibadah dan lainnya bertemakan menyebut nama Allah dan sifat-sifatnya disertai penghayatan yang mendalam. Amalan dalam tarekat ini ditujukan untuk memperoleh hubungan sedekat mungkin (secara rohaniah) dengan Tuhan.

  1. H.           Pengaruh Tarekat di Dunia Islam

Dalam perkembangannya tarekat-tarekat itu bukan hanya memusatkan perhatian pada tasawuf ajaran-ajaran gurunya, tetapi juga mengikuti kegiatan politik.

Tarekat memengaruhi dunia islam mula abad ke-13 kedudukan tarekat saat itu sama dengan partai politik. Bahkan tentara itu juga menjadi anggota tarekat.

Tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya keseluruh pelosok negeri menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik, dan memberikan otomomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok desa ada wali lokalnya yang didukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya, bahkan dipuja dan diagung-agungkan setelah kematiannya.[15] Akan tetapi pada saat-saat itu telah terjadi penyelewengan dalam tarekat-tarekat.

Disamping itu tarekat pada umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia, tarekat mengandungkan banyak beribadah saja dan jangan mengikuti dunia ini karena anggapan, “dunia ini adalah bangkai maka yang mengejar dunia ini adalah anjing”. Ajaran ini tampaknya menyelewengkan umat islam dari jalan yang harus ditempuhnya. Demikian juga sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang, qadha dan qadar yang sejalan denga faham Asy’ariyah. Para pembaharu dalam dunia islam melihat bahwa tarekat bukan hanya mencemarkan paham tauhid, tetapi juga membawa kemunduran bagi umat islam.

Oleh karena itu pada abad ke-19 timbul pemikiran yang sinis terhadap tarekat. Banyak orang yang menentang dan meninggalkan tarekat ini.

KESIMPULAN

 

Dari pembahsaan di atas dapat kita simpulkan bahwa tarekat, adalah dimana suatu jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, kemudian didalam pelaksanaan tarekat itu sendiri ada berbagai macam cara dan sangat beraneka ragam antara tarekat yang satu dengan tarekat yang lainnya, diantaranya dengan metode, wirid atau dikir yang keras, tarian, ratib, dan dengan musik.

Kemudian untuk munculnya tarekat itu sendiri yaitu pertama kali muncul di Persia, pada abad ke-9 Masehi. Secara umum muncul  pada abad ke-12 (abad ke-6 H), mengalami perkembangann pesat. Dapat dikatakan bahwa dunia islam sejak abad berikutnya (1317 H), kemudian pengaruh tarekat mulai mengalami kemunduran, serangan-serangan terhadap tarekat yang dulunya dipelopori oleh Ibnu Taimiyah (w. 1327 M/ 1728) terdengar semakin gencar dan kuat pada masa modern. Kemudian beberapa penyebab kemundurannya tarekat yaitu lemahnya islam itu sendiri dan aliran sebuah tarekat yang buruk, antara lain menumbuhkan sikap taqlid, sikap fatalistis, hingga menimbulkan perselisihan, saling memementingkan pendapat masing-masing yang tentunya hal tersebut sangatlah patal sekali bagi keberadaan tarekat tersebut hingga akhirnya banyak tarekat yang menyimpang.

Beberapa tarekat yang pernah ada antara lain: Tarekat Qadiriyah,Tarekat Syadziliah, Tarekat Rifaiyah, Tarekat Syatarriyah, dan masih banyak lagi tarekat yang lainnya yang tentu sangat beraneka ragam keberadaannya.

Kemudian tujuan tarekat itu sendiri yaitu suatu  sistem atau suatu cara dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak dikir kepada Allah SWT, dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu dengan dan bersatu secara ruhiyah dengan Tuhan sebagaimana yang contohkan oleh Rasulluah SAW.

DAFTAR PUSTAKA

 

o   Anwar, Rosihon,  2009. Akhlak Tasawuf, CV PUSTAKA SETIA : Bandung

o   Nata, Abuddin, 1996. Akhlak Tasawuf, PT Rajagrafindo Persada : Jakarta

o   Solihin, M. 2005. Akhlak Tasawuf, Penerbit Nuansa : Bandung

 


[1]  Luis Makluf. 1896. Al-Munjid fi Al-Lughat wa Al-Alam. Beirut: Dar Al-Masyrik.. hlm.465

[2]  Annemarie Schimel, 1975. Dimensi Mistik dalam Islam. Ter Supadri Djoko Darmono, dkk, dari Mystical Dimension Of Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus

[3]  Ensiklopedia Islam Jilid 5, halm, 66

[4]  Harun Nasution. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jilid II, UI Press : Jakarta

[5]  Martin Van Bruinessen,  1994. Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Mizan : Bandung.

[6]  Solihin, M. 2005. Akhlak Tasawuf, Penerbit Nuansa : Bandung

[7]  Solihin, M. 2005. Akhlak Tasawuf, Penerbit Nuansa : Bandung, hlm. 249

[8]  Solihin, M. 2005. Akhlak Tasawuf, Penerbit Nuansa : Bandung, hlm. 247

[9]  Nata, Abudin, 1996. Akhlak Tasawuf, PT Rajagrafindo Persada : Jakarta

[11]  Mustafa Zahri, 1995. Kunci memahai Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu : Jakarta. Hlm 59

[12]  Mustafa Zahri, 1995. Kunci memahai Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu : Jakarta. Hlm 57

[13]  Harun Nasution, 1963. Falsafah dan Mitisisme dalam Islam, Bulan Bintang : Jakarta

[14]  Hamka, 1984. Tasawuf perkembangan  dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas : Jakarta. hlm. 104.

[15]  A.J. Arbery. Sufisme. London : George Allen & Unwin Ltd. 1963

Posted in Makalah | 1 Comment »

Makalah Tauhid

Posted by hekom pada April 20, 2011

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat petunjuk-Nyalah, kami selaku penyusun dapat menyelesaikan makalah ini sebaik-baiknya.

Dalam makalah ini akan membahas mengenai hukum ziarah kubur, yang dimana ziarah kubur ini merupakan hal yang sepele yang ada di suatu lingkungan masyarakat, namuan tidak sedikit yang menyebabkan pertentangan yang terjadi di anatara umat islam itu sendiri.

Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, baik materi maupun penyajian serta penulisan yang tidak sesuai. Untuk itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, dan penulis mengharapkan kritik dan juga sarannya kepada semua pihak.

Kami juga mngharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini untuk masa yang akan datang. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandung, 29 Maret 2011

Penyusun,

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berawal dari sebuah aqidah yang tertanam dalam sebuah masyarakat, yang sering menjadi pertentangan yaitu salah satu tentang ziarah ke kuburan orang yang sudah meninggal. Mengapa saya tertarik untuk membahas mengenai ziarah kubur ini? yaitu karena karena di beberapa daerah tertentu ada sekelompok masyarakat yang masih melaksanakan ziarah kubur ini, terutama yang saya amati di Kampung Cangkuang RT/RW 26/04, Desa Cimahpar Kecamatan Kalibunder Kabupaten Sukabumi.

Yang dimana pada masyarakat tersebut masih sangat kental tentang pemahaman ziarah kubur tersebut. Yang dimana ternyata ada yang unik dari masyarakat tersebut yaitu di perbolehkannya untuk ziarah kubur, dan biasanya dilakukan yang paling ramai itu ketika pada saat akhir dibulan Ramadhan atau di hari raya idul fitri.

Berdasarkan hal tersebut maka saya sangat tertarik untuk mengungkap tentang ziarah kubur tersebut,, karena pada sebagian kalangan masyarakat tertentu ada yang tidak membolehkannya untuk ziarah kubur, bahkan ada beberapa kalangan yang melarangnya bahkan juga ada yang sekaligus mengharamkannya.

Dalam pembahsan makalah ini yang dijadikan referensinya yaitu Al-Quran dan Al-Hadits, dan juga sumber-sumber dari kalangan para ulama.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa ziarah kubur itu?
    2. Bagaimana hukum ziarah kubur?
    3. Bolehkan berziarah kubur?
    4. Apa hikmah di balik ziarah kubur?

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Dasar hadits-hadits yang berhubugan dengan ziarah kubur

berziarlah ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akan mati”

“saya dulu telah melarangmu berzarah ke kubur, akan tetapi sekarang aku bolehkan, oleh karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepadamu terhadap akhirat”.

Dari ibnu Ma’sud Ra. Bahwasannya nabi pernah bersabda :

saya telah melarangku ziarah kubur maka (sekarang) berziarlah ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu menjadikan kamu tidak rakus dalam keduniaan, dan mengingatkan kamu akan akhirat”.

Dari Ibnu Ma’sud dari Nabi SAW, beliau bersabda :

sesungguhnya aku telah mencegah kamu ziarah kubur, (maka sekarang) berziarahlah,. Sebab sesungguhnya ziartah kubur itu mengandung tauladan dan peringatan”.

Demikianlah, maka dari hadits di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwasannya pokok ziarah kubur itu ialah melihat kuburan, dengan tidak usah mengetahui dan membedakan yang ada dalam kubur itu siap orangnya, mukmin atau kafirnya. Yang dimana dengan adanya melihat kuburan itu diharapkan kita akan mengingat dan memikirkan keadaan yang akan kita dapati nanti dan tentunya sesutu yang pasti harus terjadi pada diri kita, yaitu akan merasakan mati dan menghadap Illahi untuk dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang diperbuatnya di dunia ini. Sehingga dengan demikian kita umat manusia hendaknya tidak terpesona oleh yang namanya kehidupan dunia yang tentunya fana ini ataupun menjadi berlebih-lebihan untuk memikirkannya sehingga melupakan keakhiratan nanti, padahal sesungguhnya kehidupan yang kekal itu adalah di akhirat kelah setelah mati, bukan sekarang.

  1. Adab ziarah kubur

Berhubungan dengan adanya hukum sunnah tersebut maka untuk menjauhkan hal-hal yang subhat dan kesalahan, ditentukanlah aturan-aturan ketika kita ingin ziarah ke kubur sebagai berikut ini :

  1. Jika kita ziarah kubur, hendaknya memberikan salam berdasarkan hadits sahih Buraidah :

Bahwasannya nabi kita bila keluar dengan sahabat-sahabatnya ke kubur, nabi menyuruh sahabat-sahabat tersebut untuk memberikan seebuah ucapan salam :

“Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan natasmu wahai ahli penghuni kubur dari orang-orang islam dan mukmin, dan insya Allah kami akan menyusulmu : kamu adalah orang-orang yang mendahului kami, dan kami adalah menyusulmu. Kami mohon kepada Allah untuk memberikan maaf (kebebasan) kepada kami dan kamu sekalian “

  1. Ketika kita ziarah kemakam, janganlah sekali-kali menginjak makam seenaknya saja, dan jangan duduk diatas makam seenaknya, bersandar atas makam, atau berbuat yang tidak layak, upamanya buang air kecil dan sebagainya. Begitu juga jangan sesekali berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama di luar makan.

Yang seharusnya sikap kita didalam makam adalah tenang dan khusyu agar dapat diziarahipun dapat memperoleh faedah dari doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk mereka.

“Lebih baik salah satu diantara mu duduk diatas bara(arang menyala), hingga apinya menghanguskan pakaiannya sampai habis kemudian menembus kulitnya, daripada ia duduk di atas kubur” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

”dari Amir bin Hazm, ia berkata : Nabi melihatku sewaktu aku sedang bersandar di kuburan, maka Nabi bersabda : Janganlah menyakiti orang yang punya kubur itu” (HR. Ahmad).

  1. Faedah ziarah kubur

            Dimana ziarah kubur mengandung dua faedah, dimana faedah tersebut kembali kepada :

  1. Orang yang berziarah itu sendiri
  2. Orang yang di zarahi

Yang pertama, sebagaimana kepentingan-kepentingan ziarah lainnya yang harus kita lakukan. Kita berziarah teman, orang tua berarti menunjukan kesetian, dan membalas kebaikan budi pekerti mereka.

Yang kedua, bersujud kebaikan salam yang disampaikan kepada ahli kubur dan doa yang dimohonkan untuk kepentingan si mati, agar dijauhkan dari siksaan.

Mengingat itu semua maka para ulama mengambil ketetapan bahwa ziarah kubur itu hukumnay sunnah.

  1. Perbedaan pendapat mengenai hukum ziarah kubur

Sejak zaman sahabat samapi Walid bin Abdul Malik menjadi raja kamar Nabi itu terpisah dari mesjid, agar tdak dimasuk oleh orang-orang agar tidak dipakai untuk shalat, dan tidak terperdaya dengan kuburan, dan juga tidak dipakai untuk berdoa disana. Karena semua itu yang dilakukan dimesjid, sedang para sahabat dan para tabiin kalau mengucapkan salam atau mendoakan Nabi menghadap kiblat tidak menghadap kuburan. Adapun etika salam di kuburan nabi menurut Abu Hanifah menghadap kiblat tapi sebagian mengatakan tidak menghadap kiblat. Tapi pada umumnya jika membaca salam khusus mengadap kubur, tapi kalau itu berarti doa, atau doa khusus menghadap kiblat.

Semua tokoh agama sepakat bahwa tidak ada gunanya mengkultuskan kuburan Nabi Muhammad SAW dan juga menciuminya. Dan semua ini hanya menjaga ketauhidan. Karena unsur yang membawa musrik adalah salah satunya menjadikan kuburan menjadi mesjid. Seperti apa yang telah diceritakan dari cerita lama yang diceritakan dalam Al-Quran surat Nuh (71) ayat 23 :

(#qä9$s%ur Ÿw ¨bâ‘x‹s? ö/ä3tGygÏ9#uä Ÿwur ¨bâ‘x‹s? #tŠur Ÿwur %Yæ#uqߙ Ÿwur šWqäótƒ s-qãètƒur #ZŽô£nSur ÇËÌÈ

Artinya : Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr[1]“.

Dan menurut mereka, Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan Nasr adalah murid Nbi Nuh yang sholeh, ketika mereka meninggal hampir bersamaan mereka berkabung, dan i’tikaf di dalam kuburan mereka untuk berkabung. Generasi selanjutnya tidak puas hanya dengan itu kemudian mereka membuat patung gambaran mereka. Dan akhirnya ada generasi dari mereka yang menyembahnya.

Pengertian seperti ini di ceritakan oleh bukhori dalam sohihnya (kitab hadis) dari ibnu Abas. Dan Ibnu jarir At-Thobari dan lain-lainnya banyak sekali menceritakan masalah itu dengan cara yang berlainan.

Awal kejadian hadits-hadits yang berhubungan dengan ziarah, dan yang pertama membuat hadits bepergian untuk berziarah ke suatu tempat atau kuburan adalah mereka ahli bid’ah dan golongan rafadloh (salah satu golongan aliran syiah) dan lainnya. Mereka itu yang mengagungkan dan mashad (suatu tanda pada umumnya di kuburan atau di tempat yang dianggap keramat atau suatu tempat peninggalan orang shaleh dan lain-lain). Dan berdoa kepada rumah-rumah Allah yang mestinya doa itu hanya untuk Allah yang menyuruh kepada mereka untuk ingat terus namanya, dan hanya menyembah kepadanya. Tapi mereka mengagung-ngagungkan mahsyad yang membawa kepada kemusyrikan, dan membuat-buat agama yang Allah tidak menurunkannya. Padahal Al-Quran dan hadits menyebbutkan agar yang diagungkan itu mesjid yang diramaikan itu mesjid bukan masyhad.

Allah berfirman dalam surat Al-A’rof (7) ayat 29.

ö@è% zsDr& ’În1u‘ ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( (#qßJŠÏ%r&ur öNä3ydqã_ãr y‰ZÏã Èe@à2 7‰Éfó¡tB çnqãã÷Š$#ur šúüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# 4 $yJx. öNä.r&y‰t/ tbrߊqãès? ÇËÒÈ

Artinya :  Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu[2] di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah (9) ayat 18

$yJ¯RÎ) ãßJ÷ètƒ y‰Éf»|¡tB «!$# ô`tB šÆtB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# tP$s%r&ur no4qn=¢Á9$# ’tA#uäur no4qŸ2¨“9$# óOs9ur |·øƒs† žwÎ) ©!$# ( #†|¤yèsù y7Í´¯»s9’ré& br& (#qçRqä3tƒ z`ÏB šúïωtFôgßJø9$# ÇÊÑÈ

Artinya : Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Allah berfirman dalam surat Jin (72) ayat 18

¨br&ur y‰Éf»|¡yJø9$# ¬! Ÿxsù (#qããô‰s? yìtB «!$# #Y‰tnr& ÇÊÑÈ

Artinya : Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah Bayat 114

ô`tBur ãNn=øßr& `£JÏB yìoY¨B y‰Éf»|¡tB «!$# br& tx.õ‹ãƒ $pkŽÏù ¼çmßJó™$# 4Ótëy™ur ’Îû !$ygÎ/#tyz 4 šÍ´¯»s9’ré& $tB tb%x. öNßgs9 br& !$ydqè=äzô‰tƒ žwÎ) šúüÏÿͬ!%s{ 4 öNßgs9 ’Îû $uŠ÷R‘$!$# ӓ÷“Åz óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã ×LìÏàtã ÇÊÊÍÈ

Artinya : Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Kemudian dikuatkan lagi oleh hadits sahih bahwa Nabi pernah mengatakan :

“ sesungguhnya orang yang seblum kamu telah menjadikan kuburan sebagai masjid, oleh karena itu kamu sekalian jangan menjadikan kuburan sebagai mesjid, karena aku melarang hal itu “.

Demikianlah sesungguhnya Allah maha tahu dalam masalah ini. Doa dikuburan atau di tempat lain yang dianggap mustazab dan mempunyai keistimewaan.

Apakah boleh berdoa dalam kuburan? Seperti kuburan orang-orang yang shaleh?. Apakah tempat seperti itu lebih dikabulkan? Dan dimana tempat yang lebih baik untuk berdoa.

Sesungguhnya berdoa di kuburan itu tidak lebih baik daripada berdoa dalam mesjid.[3] Gai Dan jika mereka menganggap kuburan sebagai suatu tempat untuk berdoa selain kepada Allah maka hal itu termasuk syirik. Syirik menurut syara berdasarkan dalil Al-Quran maupun sunah Rasul berarti perbuatan seorang yang telah beriman kepada Allah dengan segala lketentuan di luar petunjuk Allah.[4]

Jadi telah diharamkan untuk menjadikan kuburan sebagai mesjid dan tidak boleh dijadikan tempat beribadah kepada Allah dan juga tempat berdoa kepada-Nya. Bahkan disunahkan kepada orang yang berziarah itu dengan memberikan salam dan mendoakan. Seprti dinjurkan Nabi ketika mau dimakamkan dan mendoakanya. Dan maksudnya disini adalah Nabi menganjurkan untuk mendoakan mayit bukan mohon kepada-Nya. Dan Allahlah yang maha tahu tentang masalah ini.[5]

  1. Ziarah dalam Syariat dan ziarah dalam bid’ah

Ziarah syariat maksudnya adalah memberikan salam kepada mayit dan mendoakannya. Apakah yang meninggal itu Nabi atau bukannya, oleh karena itu kalau para sahabat ing berziarah kepada Nabi mereka mengucapkan salam atau doa untuknya. Kemudian telah diserongkan sehingga banyak orang yang berpaling dari pengertian ini, sampai sekarang hampir tidak seorangpun yang berziarah ke Nabi untuk mendoakannya.

Oleh karena itu Imam Malik dan lain-lain para ulama melarang untuk mengatakan ziarah Nabi. Mereka mengatakan bahwa yang demikian itu adalah bid’ah.

Oleh karena itu para ahli fikih berpendapat bagi orang yang ingin mendoakan Nabi dan memberikan salam kepada beliau tidak perlu menghadap kuburannya tapi menghadap kiblat. Tapi ulama tersebut berbeda pendapat dalam hala mengucapkan salam. Apakah dengan menghadap kiblat atau mengahdap ke kuburan Nabi? Menurut Abu Hanifah menghadap kiblat. Tapi menurut imam malik dan Syafii menghadap ke kuburan Nabi.

Bagi yang harus menghadap kiblat dihubungkan dengan hadits-hadits Nabi yang melarang untuk berziarah ke kuburan dan yang menganggap boleh menghadap kuburan dihubungkan dengan ajaran Nabi untuk mencium hajar Aswad dan memberi salam di sudut Yaman ketika tawaf di Ka’bah.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan :

  1. Ziarah kubur itu di perbolehkan dengan alasan ketika kita ziarah kekuburan orang yang sudah meninggal , baik itu kuburan Nabi atau bukan itu bermaksud untuk mengucapkan salam dan mendoakan orang yang sudah mati tersebut.
  2. Ketika ziarah kubur hendaknya bukan niat untuk melihat atau memuja kuburan dan dijadikan sebagai tempat berdoa kepada-Nya
  3. Alangkah baiknya jika kita ingin mendoakan si mayit di dalam mesjid saja, gak harus pergi mengunjungi tempat dimana di kuburnya.
  4. Dengan adanya menengok kuburan orang yang sudah meninggal, setidaknya mengingatkan kita akan kematian yang tentunya akan menjadikan sebuah tolak ukur dalam menjalani ibadah sehari-hari kita, yang dimana kita juga semua akan merasakanmemasuki alam kubur.
  5. Jangan mengunjungi kubur untuk hal-hal yang musyrik.
  6. Jangan shalat diatas kuburan orang yang sudah meninggal

  1. Saran

Setelah melakukan beberapa analisa dari pembahsan diatas maka kita selaku manusia yang tentunya sangat jauh sekali dari sunnatullah dan masih banyak sekali unsur syiriknya yang terkandung dalam diri kita.

Maka hendaknya kita lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, terutama dalam masalah tauhid banyak sekali yang perlu kita luruskan, sehingga dalam diri kita tidak terjadi unsur kesombongan, sehingga yang akhirnya akan menimbulkan perpecahan dan pertentangan hanya karena masalah aqidah atau hanya berbeda terhadap sebuah kepercayaan yang sekiranya akan menghan curkan umat islam islam itu sendiri.

Untuk masalah ziarah kubur tentunya banyak asekali perbedaan pendapat yang terjadi di berbagai kalangan masyarakat, namun tentunya kita sebagai manusia yang punya akal kita harus pandai memilah dan memilih, kalau sekiranya untuk menyembah atau mengagung-ngagungkan kuburan tentunya itu sebuah kemusyrikan, dan sebaliknya jika hanya untuk mengucapkan salam dan mendoakan atas orang yang sudah meninggal itu hal yang boleh bahkan bisa dikatakan sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas
  2. H Zainuddin, 1996. Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta : PT Rineka Cipta
  3. Rahman, Abdur, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf


[1]   Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan Nasr adalah Nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

[2]  Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah

[3]  A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas

[4]  Rahman, Abdur, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf

[5]  A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas

[6]  Ibid, Hal. 91

Posted in Makalah | Leave a Comment »

Makalah Psikologi Umum

Posted by hekom pada April 20, 2011

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat petunjuk-Nyalah, kami selaku penyusun dapat menyelesaikan makalah ini sebaik-baiknya.

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah psikologi umum
  2. Menambah wawasan bagi para pembaca pada umumnya, dan bagi penyusun pada khususnya.

Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, baik materi maupun penyajian serta penulisan yang tidak sesuai. Untuk itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, dan kami mengharapkan kritik dan juga sarannya kepada semua pihak.

Kami juga mngharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini untuk masa yang akan datang. Terima kasih.

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

 

Bandung, 04 Maret 2011

 

Penyusun,

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa inggris, psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu psyche yang artinya jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa. Beberapa macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda, seperti

  1. Psikologi adalah ilmu kehidupan mental (the scence of mental life)
  2. Psikologi adalah ilmu menganai pikiran (the science of mine)
  3. Psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku (the science of behavior)

Pada makalah ini akan dibahas bagian dari psikologi yaitu tentang sikap emosi, dalam hal emosi para ahli mengemukakan beberapa teori. Salah satu teori menyebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologis. teori lain berpendapat bahwa karena gejolak emosi itu menyiapak seseorang untuk mengatasi keadaan genting, orang primitif yang membuat respon semacam itu bisa survive dalam perjuangan hidupnya, lalu darimanakah emosi itu tinggal? Dari pikiran atau dari tubuh? Tentunya untuk mengungkap kebenaran hal itu sulit sekali.

  1. Hipotesis
    1. Apa itu emosi?
    2. Darimana itu emosi? Dan bagaimana perkembangannya?
    3. Bagaimanakah cara mengendalikan emosi?

BAB II

PEMBAHSAAN

 

  1. Hakekat Emosi

Darimana emosi itu muncul? Apakah dari pikiran atau dari tubuh? Pada hakikatnya setiap orang mempunyai emosi, dari bangun tidur pagi sampai malam hari, kita mengalami macam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula.

Lantas apa yang dimaksud dengan emosi? Menurut William James (dalam Wedge, 1995), menurut beliau mendefinisikan emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya. Crow dan Crow (1962), dia mengartikan emosi sebagai suatu kedaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian diri dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahtraan dan keselamatan individu.

Dari definisi tersebut jelas bahwa emosi tidak selalu jelek, emosi meminjam ungkapan Jalaludin Rakhmat (1994), memberikan bumbu kepada kehidupan tanpa emosi hidup ini kering dan gersang.

Memang semua orang memiliki jenis perasaan yang serupa, namun intensipnya berbeda-beda, emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menajdi modal untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Semua itu tergantung pada emosi yang kita pilih dalam reaksi kita terhadap orang lain, kejadian-kejadian, dan situasi disekitar kita.

Disisi lain juga emosi itu kebanyakan cenderung untuk melakukan sesuatu hal yang jelek, dan jarang ada emosi yang bertujuan untuk hal yang baik.

  1. Teori-teori emosi
  2. Teori emosi dan faktor Schacter Sinyer

Teori emosi dua faktor schacer-singer dikenal sebagai teori yang klasik yang berorientasi pada rangsangan. Reaksi fsiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin di alirkan dalam darah dan sebagainya), namun jika rangsangannya menyenangkan emosi yang timbul dinamakan senang. Sebaliknya jika rangsangan yang membahayakan emosi yang dinamakan takut. Para ahli psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.

  1. Teori emosi James-lange

Dalam tori ini disebutkan bahwa emosi timbil setelah terjadinya reaksi psikologik.

William James (1884), dari Amerika Serikat dan Carl Lange (1885), dari Denmark telah mengemukakan pada saat yang hampir bersamaan suatu teori tentang emosi mirip satu sama lainnya, sehingga teori ini terkenal dengan nama teori James-Lange (Effendi dan Praja, 1993; mahmud, 1990; Dirgagunarsa, 1996).

Menurut teori ini emosi adalah hasil prsepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Misalkan jika seseorang melihat harimau, reaksinya adalah peredaran darah cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara dan sebagainya. Respon-respon tubuh ini kemudian di persepsikan dan timbulah rasa takut. Mengapa rasa takut itu timbul? Ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar. Orang bersangkutan dari hasil pengalamnnya telah mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya karena itu debaran jantung di persepsikan takut.

  1. Teori Emergency Cannon

Teori ini dikemukakan oleh Walter. B Cannon (1929), seorang psikolog dari Harvard University, Cannon dalam teorinya menyatakan bahwa karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting.

Teori ini menyebutkan emosi sebagai pengalaman subjektif psikologik, timbul bersama-sama dengan reaksi fsikologik (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin di alirkan dalam darah dan sebagainya).

Teori Cannon selanjutnya diperkuat oleh Philip Bard, sehingga lebih dikenal dengan teori Cannon-Bard atau teori “emergency” teori ini mengatakan pula bahwa emosi adalah reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergency (darurat). Teori ini didasarkan pada pendapat bahwa ada antagonisme (fungsi yang bertentangan) antara saraf-saraf simpatis dengan cabang-cabang oranial dan secral daripada susunan saraf otonom. Jadi kalau saraf-saraf simpatis aktif sarat otonom nonaktif, dan begitu kebalikannya.

  1. Menggolongkan emosi

Membedakan suatu emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis kedalam suatu golongan atau suatu tipe sangat sukar dilakukan karenaa hal-hal sebagai berikut?

  1. Emosi yang sangat mendalam, misalnya sangat marah atau sangat takut menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif, dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang itu sedang takut atau marah
  2. Penghayatan, satu orang yang dapat menghaytai satu macam emosi dengan berbagai cara misalnya kalau marah aseorang akan gemetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari
  3. Nama emosi, nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi didasarkan oleh sifat rangsangannya, bukan pada keadaan emosinya sendiri, jadi takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya yang menjengkelkan.
  4. Pengenalan emosi, pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaru dari lingkungan

Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi, terutama pada emosi yang kuat sering kali terjadi perubahan-perubahan pada tubuh kita antara lain :

  1. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona
  2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
  3. Denyut jantung : bertambah cepat bila berdenyut
  4. Perubah rnapasan : bernapsas panjang bila kencang
  5. Pupil mata : membesar bila sakit atau marah
  6. Liur : mongering bila takut dan tegang
  7. Bulu roma : berdiri bila takut
  8. Percernaan : mencret-mencret bila tegang
  9. Komposisi darah : komposisi darah akan pucat berubah dalam keadaa emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif.
  10. Perkembangan emosi

Para ahli psikolog sering menyebutkan bahwa dari semua aspek perkembangan, yang paling sukar untuk di klasifikasikan adalah perkembangan emosional. Orang-orang dewasapun sukar mendapat kesukaran dalam menyatakan perasaannya. Reaksi pada emosi pada dasarnya sanat dipengaruhi oleh lingkungan, kebudayaan dan sebagainya, sehingga mengukur emosi itu agaknya hampir tidak mungkin.

Dalam pertumbuhan yang normal, hubungan saraf-saraf itu berkembang di dalam  otak baru dan otak lama. Disaat kematangan ini tumbuh respon-respon emosional berkembang melalui empat jalan, hal ini sesuai dengan empat aspek emosi yaitu : (1) Stimulus, (2) perasaan, (3) respon-respon internal, (4) pola-pola tingkah laku.

  1. Gangguan emosi

Sekarang ini banyak teori yang muncul untuk mencoba menjelaskan sebab-musabab terjadinya gangguan emosional. Teori-teori tersebut dapat dikelompokan dalam tiga kategori; lingkungan, afektif, dan kongnitif (Hauck, 1967).

  1. Teori lingkungan

Teori lingkungan ini menganggap bahwa penyakit mental diakibatkan oleh berbagai kejadian yang menyebabkan timbulnya stres. pandangan tersebut beranggapan bahwa kejadian ini sendiri adalah penyebab langsung dari keterangan emosi.

Pada umumnya, orang menganggap teori ini sesuai dengan akal sehat dan menerima pandangan in begitu saja. Ucapan-ucapan seperti “ia membuat saya marah”, “film lucu itu membuat saya tertawa”, merupakan bukti nyata bahwa berbagai kejadian di dalam hidup kita mempunyai hubungan langsung dan satu terhadap satu dengan perasaan emosional kita.

Teori ini sama sekali tidak bisa menjelaskan mengapa pada suatu waktu kejadian tertentu membawa kesedihan, tetapi tidak demikian pada saat lain. Atau mengapa seorang bisa bersikap sangat tenang terhadap kejadian yang tidak menguntungkan, sedangkan orang lain bil aberhadapan dengan kejadian yang sama akan mengalami kecemasan.

Seperti yang kita lihat teori ini memang sangat masuk akal, namun hanya sampai batasan tertentu. Betapapun populernya teori tersebut tidak cukup untuk menerangkan secara luas gejala dari pergolakan emosional.

Menurut pandangan ini, tekanan emosional baru bisa dihilangan kalau masalah “penyebab” ketegangan tersebut di tiadakan. Selama masalh tersebut masih ada, biasanya  tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyertainya. Karena yang disebut lebih dahulu diduga sebagai penyebab dari yang belakangan, secara logis bisa dikatakan bahwa penghilangan masalah selalu dapat menghilangkan kesukaran. Memang demikianlah yang sering terjadi tetapi ini belum tentu dapat menghilangkan reaksi emosional yang kuat sekali jika reaksi ini terjadi (Hauck 1967).

  1. Teori afektif

Pandangan profesional yang paling luas dianut mengenai gangguan mental adalah pandangan yang berusaha menemukan pengalaman emosional bawah sadar yang dialami seorang anak bermasalah dan kemudian membawa ingatan yang dilupakan dan ditakuti ini ke alam sadar, sehingga dapat di lihat dari sudut yang lebih realistik. Sebelum rasa takut dan rasa salah tersebut disadari, anak-anak itu diperkirakan hidup dengan pikiran bawah sadar yang ipenuhi dengan bahan-bahan yang menghancurkan yang tidak bisa dilihat, tetapi masih sangat aktif dan hidup. Ia bisa cemburu dan membenci ayahnya yang ditakutkan akan melukainya karena pikiran-pikiran jahat tersebut, anak itu mngkin merasa bersalah karena rasa benci itu sehingga amat berharap mendapat hukuman atas kejahatannya. Karena tidak menyadari kebencian itu si anak tidak menyadari bahwa si anak banyak kejadian tidak masuk akal terjadi atas dirinya sebenarnya adalah alat untuk menghukum dirinya sendiri.

Menurut pandangan ini bukan lingkungan seperti si ayah yang menimbulkan gangguan, tetapi perasaan bawah sadar sianak (atau dikatakan afeksi), kelepasan hanya bisa dicapai bila perasaan tersebut dimaklumi dan dihidupkan kembali dengan seorang yang tidak akan menghukum anak tersebut atas keinginan-keinginan berbahaya.

  1. Teori kongnitif

Sekarang ini hanya teori kognitif utama yang patut dibicarakan, yakni “Psikoterapi Rasional Emotif” yang ditemukan oleh Albert Ellis (1962), menurut teori  ini  penderitaan mental tidak disebabkan langsung oleh masalah kita atau perasaan bawah sadar kita akan masalah tersebut melainkan dari pendapat yang salah dan irasional. Yang di sadari maupun yang tidak disadari akan masalah-masalah yang kita hadapi.

  1. Macam-macam emosi

Atas dasar aktivitasnya tingkah laku emosinal dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : (1) marah, orang bergerak menentang sumber frustasi, (2) takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi, (3) cinta, orang bergerak menuju sumber  kesenangan, (4) defresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri (Mahmud, 1990:167).

Dari hasil penelitiannya John B Watson, (dalam Mahmud 1990) menemjukan bahwa tiga dari ke empat respon emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu : takut, marah, dan cinta.

  1. Ekspresi dan emosi

Apakah ekspresi itu? Wullur (1970:16) melukiskan ekspresi sebagai “pernyataan batin seseorang dengan cara berkata, bernyanyi, bergerak, dengan catatan bahwa ekspresi itu selalu tumbuh karena dorongan akan menjelmakan perasaan atau buah pikiran”.

Ekspresi menurut Wullur, juga bersifat membersihkan,  membereskan (katarsis), karena itu ekspresi dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan, dan terkadang bisa menjadi letusan kecil ataupun juga menjadi letusan besar. Misalnya mengamuk bahkan membunuh, letusan yang lebih besar lagi adalah terjadinya letusan revolusi suatu bangsa yang bertahun-tahun atau berabad-abad tertindas.

Dalam kaitannya dengan emosi, kita dapat  membagi ekspresi emosional (emotional expression) dalam tiga macam (Dirgagunarsa, 1996:138) yakni : (1) startle response atau reaksi terkejuit, (2) facial and vocal expression atau ekspresi wajah dan suara, (3) posture and gesture atau ekspresi sikap dan gerak tubuh.

  1. Perasaan dan emosi

Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif dan negatif’ (Koentjaraningrat, 1980).

Dalam mempelajari perasaan para ahli tidak mengadakan pembedaan yang tegas dengan emosi. Hal ini tampak pada pembagian perasaan yang dilakukan oleh beberapa ahli dibawah ini (Dirgagunarsa, 1996) yakni : (1) perasaan pengindraaan, (2) perasaan vital, (3) perasaan psikis (4) perasaan pribadi.

W. Stern mengadakan pembagian perasaan sebagai berikut: (1) perasaan yang bersangkutan dengan masa kini, (2) perasaan yang bersangkutan dengan masa lampau, (3) perasaan yang bersangkutan dengan masa yang akan datang.

Watson menyatakan bahwa manusia pada dasarrnya mempunyai tiga emosi dasar yakni: (1) fear, yang nantinya bisa berkembang menjadi anxiety atau cemas, (2) rage, yang akan berkembang antara lain menjadi anger (marah), (3) love, yang akan berkembang menjadi simpati.

Descrates juga mengemukakan emosi-emosi dasar sebanyak enam macam yakni : (1) desire, keinginan, (2) hate, benci, (3) wonder, kagum, (4) sorrow,kesedihan, (5)love, cinta, (6) joy, kegembiraan.

  1. Mengendalikan emosi

Mengendalikan emosi itu penting sekalai, karena kenapa? hal ini didasrkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untk mengomunikasikan diri kepada orang lain.

Supaya pergaulan kita sehari-hari dapat berjalan lancar dan dapat menikmati kehidupan yang tentram, kita tidak hanya mampu mengendalikan emosi, namun juga harus memiliki emosi yang tepat dengan mempertimbangkan keadaan, waktu, dan tempat. Maka menurut Wedge (1995), rahasia hidup yang bahagia dapat dinyatakan dalam suatu kalimat singkat, “pilihlah emosi anda seperti anda memiliki sepatu anda”.

Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa peraturan untuk mengendalikan emosi (Mahmud, 1990) yakni : (1) hadapilah emosi tersebut, (2) jika mungkin, tafsirkanlah kembali situasinya, (3) kembangkanlah rasa humor dan sikap realistis, (4) atasilah problem-problem yang menjadi sumber emosi.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Secara garis besar pisikologi dapat di artikan sebagai salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang pola tingkah laku manusi pada umumnya.

Dari pembahasan di atas yang di ungkapkan oleh beberapa tokoh psikologi, mengenai apa itu emosi, perkembangan emosi dalam diri kita, bahkan bagaimana cara pengendalian emosi. Namun yang perlu kita ketahuii juga bahwa para ahli psikologi dalam melacak tentang emosi itu tentunya sangat berbeda dan juga beragam peafsiran.

Dalam PSIKOLOGI UMUM dalam lintas sejarah / Drs. Alex Sobur, M.Si – Cet 1 Bandung : Pustaka Setia, september 2003, 568 halm: 16 x 24 cm, telah di bahas dimana emosi itu menurut  William James (dalam Wedge, 1995), emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya. Crow dan Crow (1962), mengartikan emosi sebagai suatu kedaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian diri dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahtraan dan keselamatan individu.

Berdasarkan definisi yang du ungkapan oleh beliau, jadi pada intinya emosi itu akan selalu ada dan timbul pada setiap individu, baik tua maupun muda pasti mempunyai emosi, yang dimana emosi itu akan selalau muncul pada setiap individu sesuai dengan keadaan jiwa si individu tersebut, emosi itu bermacam-macam ada takut, marah dan cinta.

Kemudian emosi tersebut biasanya di luapkan oleh seseorang melalui ekspresi, agresi dan juga melalui sebuah perasaan.

Ketika kita berbicara tentang emosi tentu perasaan kita selslu ke arah negatif, karena kenapa? Karena emosi hampir dominan itu sangat membahayakan, tentunya hal yang tidak dinginkan menimpa pada kita.

Kita sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain tentunya tidak ingin hubungan kita terputus karena dengan adanya emosi tersebut, ada beberapa cara untuk mengendalikan emosi diantaranya: (Mahmud, 1990) yakni : (1) hadapilah emosi tersebut, (2) jika mungkin, tafsirkanlah kembali situasinya, (3) kembangkanlah rasa humor dan sikap realistis, (4) atasilah problem-problem yang menjadi sumber emosi.

Dan yang lebih penting kita harus sadar betul akan diri kita, bahwa kita hidup perlu lingkungan yang sehat, perlu sosialisai, jadi kita membutuhkan teman-teman di sekelilking kita. Jika seandainya kita tidak bisa menjaga emosi kita tentu kita akan jauh dari temen-temen kita.

  1. Saran

Emosi yang ada diri kita tentunya harus bisa kita jaga sesuai dengan lingkungan, waktu dan juga tempat, apalagi kita sebagai Mahasiswa umumnya untuk seluruh individu manusia, kita harus bisa menjaga emosi jangan sampai emosi yang kita luapkan tidak sesuai dengan keadaan, karena kenapa? Karena emosi itu ada pada setiap individu termasuk kita, tidak mungkin seorang individu tidak punya individu. Oleh karena itu kita harus mawas diri dalam mengendalikan emosi tersebut.

Dalam hal lain selain kita harus bisa harus mawas diri, kita juga harus lebih mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi segala larangannya, karena seseorang yang jauh dari sifat buruk itu akan senan tisa mendapat Nurullah yaitu cahaya Allah, yang senantiasa perbuatannya selalu terjaga dengan hati-hati.

DAFTR PUSTAKA

            Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia

Syah, Muhibbin, 2009. Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Shaleh, Abdul Rahman, 2008. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Persfektif Islam, Jakarta: Kencana

Posted in Makalah | Leave a Comment »

Jihad itu apa seeh?

Posted by hekom pada Desember 26, 2010

Arti Jihad :

  • Dalam bahasa berarti “Berusaha keras” atau “Berjuang”
  • Dalam konteks Islam bermakna “Berjuang menegakkan syariat Islamiah”

Bentuk Jihad :

Ber-Jihad tidak selalu harus identik dengan ber-perang secara lahiryah / fisik , sebab Jihad , antara lain , dapat berbentuk :

  • Perjuangan dalam diri sendiri untuk menegakkan syariat Islamiah
  • Perjuangan terhadap orang lain , baik lisan , tulisan atau tindakan
  • Jihad dalam bentuk pertempuran : QITAL (Contoh: At-Taubah – Ayat 111 , disebut sebagai “qital” dengan arah : “fisabilillah” – Perang dijalan Allah , tidak disebut “jihad” dengan arah “fisabilillah”)
    Islam membenci peperangan , tetapi mewajibkan berperang , jika dan hanya jika , muslim diserang (karena agama) terlebih dahulu dan diusir dari negeri-nya ( sampai suatu batas mutlak yang ditentukan . Terlalu luas untuk dijabarkan disini ).

Surat An Nisaa’ – 4:84
Maka berperanglah ( qatil ) kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri . Kobarkanlah semangat para mu’min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)

Al Mumtahanah 60:9
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu , dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Syarat berjihad :

Jihad harus dilakukan setiap saat , dalam kesadaran 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup . Kerena didalamnya (antara lain) termasuk

  • Perjuangan untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh allah SWT
  • Berjuang untuk mau menjalankan perintahnya-perintahnya Seperti melawan rasa kantuk dan dingin yang menghalangi Shalat Subuh , atau bersabar untuk mengendalikan amarah, dsb .

Posted in Islamic, kehidupan manusia | Leave a Comment »

Alhamdulilah

Posted by hekom pada Juni 10, 2010

aku dapet beasiswa bidik misi UIN…thank ya Rabb. thank to my father ‘n mother and all my teacher

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

eitZZZZ

Posted by hekom pada Januari 20, 2010

cipta tercipta buka hanya di mata
terlahir dari hati
datang sendiri mengalir
megarah lubuk di hati
mengayomi hati
yang terguncang perasaan emosi
bukan hanya rasa yang terelak
matapun terbengalai
lihat tatap sinar kedip bola matamu
pancarkan kesetian di mata

Posted in loving full | Leave a Comment »

BingunG..

Posted by hekom pada Januari 20, 2010

Benar kata dunia..untuk hidup maju tu susah banget ya….
aduh cape deh…bingung mikirin stelah ujian mw kemana ya Allah…
berikan lah jalan terbaik untuk ku.

Posted in kehidupan manusia | Leave a Comment »

Tak Bza

Posted by hekom pada Januari 17, 2010

Tk pernah lelah hati ini

terfikir baang malu di muka

terlintas maaf yang besar

ku ucap pada dia

maf………

berat hati tuk tak bisa mengasihi

tertegun hati tuk memberi kebahagiaan

inilah aku apa adanya

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Jangan ML…pamali

Posted by hekom pada Januari 16, 2010

ML artinya Making Love…berarti berbuat atas dasar cinta ma sayang…sebenernya beda-beda tipislah ML ma pacar atau ma istri

Ml..bagi seorang yang sedang melakukan hubungan sangatlah erat keterkaitannya, dan sudah melekat di hati, dimana dengan Ml sepasang kekasih akan membuktikan rasa kasih sayangnya itu, dan membuktikan betapa besar rasa yang mereka miliki sehingga mereka rela ngelakuin yang kaya gituan…namun teman janganlah kau terkait dengan kenikmatan yang sesaat itu, emang seeh enak v cuma sesaat kan ? nyesalnya seumur idup..makanya low pacaran  yang biasa2 ja..jangan sampe ngelakuin ka ya gituan mending si cowkx mw tanggung jawab low ngga? si cwek sibuk sndiri kan cari dukun bwt gugurin tu anak…eh jangan salah karangkan banyak kondom katanya..n alat kontrasefsi laenya… namun ingatlah bahwa itu salah sesekali kamu akan kena yang namanya azab…INGAT JANGAN ML>>>:)

Posted in loving full | Leave a Comment »

arti perawan itu apa..seeeh

Posted by hekom pada Januari 16, 2010

Suatu hari Azzam, anak sulung saya, ketika berusia 7 tahun bertanya pada ibunya, “Ummi, perawan itu apa sih..?”. Sang bunda bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. “Ehm..perawan itu artinya belum pernah menikah…ehm,,,”. “Bukan itu maksudnya…” tukas Azzam sambil memperlihatkan sebuah berita dari tabloid olahraga kegemarannya : “Mampukah Penjaga Gawang itu Menjaga Gawangnya tetap Perawan..?

Posted in loving full | Leave a Comment »