Hendrakomara's Blog

Just another WordPress.com weblog

Makalah Tauhid

Posted by hekom pada April 20, 2011

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat petunjuk-Nyalah, kami selaku penyusun dapat menyelesaikan makalah ini sebaik-baiknya.

Dalam makalah ini akan membahas mengenai hukum ziarah kubur, yang dimana ziarah kubur ini merupakan hal yang sepele yang ada di suatu lingkungan masyarakat, namuan tidak sedikit yang menyebabkan pertentangan yang terjadi di anatara umat islam itu sendiri.

Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, baik materi maupun penyajian serta penulisan yang tidak sesuai. Untuk itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, dan penulis mengharapkan kritik dan juga sarannya kepada semua pihak.

Kami juga mngharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini untuk masa yang akan datang. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandung, 29 Maret 2011

Penyusun,

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berawal dari sebuah aqidah yang tertanam dalam sebuah masyarakat, yang sering menjadi pertentangan yaitu salah satu tentang ziarah ke kuburan orang yang sudah meninggal. Mengapa saya tertarik untuk membahas mengenai ziarah kubur ini? yaitu karena karena di beberapa daerah tertentu ada sekelompok masyarakat yang masih melaksanakan ziarah kubur ini, terutama yang saya amati di Kampung Cangkuang RT/RW 26/04, Desa Cimahpar Kecamatan Kalibunder Kabupaten Sukabumi.

Yang dimana pada masyarakat tersebut masih sangat kental tentang pemahaman ziarah kubur tersebut. Yang dimana ternyata ada yang unik dari masyarakat tersebut yaitu di perbolehkannya untuk ziarah kubur, dan biasanya dilakukan yang paling ramai itu ketika pada saat akhir dibulan Ramadhan atau di hari raya idul fitri.

Berdasarkan hal tersebut maka saya sangat tertarik untuk mengungkap tentang ziarah kubur tersebut,, karena pada sebagian kalangan masyarakat tertentu ada yang tidak membolehkannya untuk ziarah kubur, bahkan ada beberapa kalangan yang melarangnya bahkan juga ada yang sekaligus mengharamkannya.

Dalam pembahsan makalah ini yang dijadikan referensinya yaitu Al-Quran dan Al-Hadits, dan juga sumber-sumber dari kalangan para ulama.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa ziarah kubur itu?
    2. Bagaimana hukum ziarah kubur?
    3. Bolehkan berziarah kubur?
    4. Apa hikmah di balik ziarah kubur?

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Dasar hadits-hadits yang berhubugan dengan ziarah kubur

berziarlah ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akan mati”

“saya dulu telah melarangmu berzarah ke kubur, akan tetapi sekarang aku bolehkan, oleh karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepadamu terhadap akhirat”.

Dari ibnu Ma’sud Ra. Bahwasannya nabi pernah bersabda :

saya telah melarangku ziarah kubur maka (sekarang) berziarlah ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu menjadikan kamu tidak rakus dalam keduniaan, dan mengingatkan kamu akan akhirat”.

Dari Ibnu Ma’sud dari Nabi SAW, beliau bersabda :

sesungguhnya aku telah mencegah kamu ziarah kubur, (maka sekarang) berziarahlah,. Sebab sesungguhnya ziartah kubur itu mengandung tauladan dan peringatan”.

Demikianlah, maka dari hadits di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwasannya pokok ziarah kubur itu ialah melihat kuburan, dengan tidak usah mengetahui dan membedakan yang ada dalam kubur itu siap orangnya, mukmin atau kafirnya. Yang dimana dengan adanya melihat kuburan itu diharapkan kita akan mengingat dan memikirkan keadaan yang akan kita dapati nanti dan tentunya sesutu yang pasti harus terjadi pada diri kita, yaitu akan merasakan mati dan menghadap Illahi untuk dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang diperbuatnya di dunia ini. Sehingga dengan demikian kita umat manusia hendaknya tidak terpesona oleh yang namanya kehidupan dunia yang tentunya fana ini ataupun menjadi berlebih-lebihan untuk memikirkannya sehingga melupakan keakhiratan nanti, padahal sesungguhnya kehidupan yang kekal itu adalah di akhirat kelah setelah mati, bukan sekarang.

  1. Adab ziarah kubur

Berhubungan dengan adanya hukum sunnah tersebut maka untuk menjauhkan hal-hal yang subhat dan kesalahan, ditentukanlah aturan-aturan ketika kita ingin ziarah ke kubur sebagai berikut ini :

  1. Jika kita ziarah kubur, hendaknya memberikan salam berdasarkan hadits sahih Buraidah :

Bahwasannya nabi kita bila keluar dengan sahabat-sahabatnya ke kubur, nabi menyuruh sahabat-sahabat tersebut untuk memberikan seebuah ucapan salam :

“Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan natasmu wahai ahli penghuni kubur dari orang-orang islam dan mukmin, dan insya Allah kami akan menyusulmu : kamu adalah orang-orang yang mendahului kami, dan kami adalah menyusulmu. Kami mohon kepada Allah untuk memberikan maaf (kebebasan) kepada kami dan kamu sekalian “

  1. Ketika kita ziarah kemakam, janganlah sekali-kali menginjak makam seenaknya saja, dan jangan duduk diatas makam seenaknya, bersandar atas makam, atau berbuat yang tidak layak, upamanya buang air kecil dan sebagainya. Begitu juga jangan sesekali berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama di luar makan.

Yang seharusnya sikap kita didalam makam adalah tenang dan khusyu agar dapat diziarahipun dapat memperoleh faedah dari doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk mereka.

“Lebih baik salah satu diantara mu duduk diatas bara(arang menyala), hingga apinya menghanguskan pakaiannya sampai habis kemudian menembus kulitnya, daripada ia duduk di atas kubur” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

”dari Amir bin Hazm, ia berkata : Nabi melihatku sewaktu aku sedang bersandar di kuburan, maka Nabi bersabda : Janganlah menyakiti orang yang punya kubur itu” (HR. Ahmad).

  1. Faedah ziarah kubur

            Dimana ziarah kubur mengandung dua faedah, dimana faedah tersebut kembali kepada :

  1. Orang yang berziarah itu sendiri
  2. Orang yang di zarahi

Yang pertama, sebagaimana kepentingan-kepentingan ziarah lainnya yang harus kita lakukan. Kita berziarah teman, orang tua berarti menunjukan kesetian, dan membalas kebaikan budi pekerti mereka.

Yang kedua, bersujud kebaikan salam yang disampaikan kepada ahli kubur dan doa yang dimohonkan untuk kepentingan si mati, agar dijauhkan dari siksaan.

Mengingat itu semua maka para ulama mengambil ketetapan bahwa ziarah kubur itu hukumnay sunnah.

  1. Perbedaan pendapat mengenai hukum ziarah kubur

Sejak zaman sahabat samapi Walid bin Abdul Malik menjadi raja kamar Nabi itu terpisah dari mesjid, agar tdak dimasuk oleh orang-orang agar tidak dipakai untuk shalat, dan tidak terperdaya dengan kuburan, dan juga tidak dipakai untuk berdoa disana. Karena semua itu yang dilakukan dimesjid, sedang para sahabat dan para tabiin kalau mengucapkan salam atau mendoakan Nabi menghadap kiblat tidak menghadap kuburan. Adapun etika salam di kuburan nabi menurut Abu Hanifah menghadap kiblat tapi sebagian mengatakan tidak menghadap kiblat. Tapi pada umumnya jika membaca salam khusus mengadap kubur, tapi kalau itu berarti doa, atau doa khusus menghadap kiblat.

Semua tokoh agama sepakat bahwa tidak ada gunanya mengkultuskan kuburan Nabi Muhammad SAW dan juga menciuminya. Dan semua ini hanya menjaga ketauhidan. Karena unsur yang membawa musrik adalah salah satunya menjadikan kuburan menjadi mesjid. Seperti apa yang telah diceritakan dari cerita lama yang diceritakan dalam Al-Quran surat Nuh (71) ayat 23 :

(#qä9$s%ur Ÿw ¨bâ‘x‹s? ö/ä3tGygÏ9#uä Ÿwur ¨bâ‘x‹s? #tŠur Ÿwur %Yæ#uqߙ Ÿwur šWqäótƒ s-qãètƒur #ZŽô£nSur ÇËÌÈ

Artinya : Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr[1]“.

Dan menurut mereka, Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan Nasr adalah murid Nbi Nuh yang sholeh, ketika mereka meninggal hampir bersamaan mereka berkabung, dan i’tikaf di dalam kuburan mereka untuk berkabung. Generasi selanjutnya tidak puas hanya dengan itu kemudian mereka membuat patung gambaran mereka. Dan akhirnya ada generasi dari mereka yang menyembahnya.

Pengertian seperti ini di ceritakan oleh bukhori dalam sohihnya (kitab hadis) dari ibnu Abas. Dan Ibnu jarir At-Thobari dan lain-lainnya banyak sekali menceritakan masalah itu dengan cara yang berlainan.

Awal kejadian hadits-hadits yang berhubungan dengan ziarah, dan yang pertama membuat hadits bepergian untuk berziarah ke suatu tempat atau kuburan adalah mereka ahli bid’ah dan golongan rafadloh (salah satu golongan aliran syiah) dan lainnya. Mereka itu yang mengagungkan dan mashad (suatu tanda pada umumnya di kuburan atau di tempat yang dianggap keramat atau suatu tempat peninggalan orang shaleh dan lain-lain). Dan berdoa kepada rumah-rumah Allah yang mestinya doa itu hanya untuk Allah yang menyuruh kepada mereka untuk ingat terus namanya, dan hanya menyembah kepadanya. Tapi mereka mengagung-ngagungkan mahsyad yang membawa kepada kemusyrikan, dan membuat-buat agama yang Allah tidak menurunkannya. Padahal Al-Quran dan hadits menyebbutkan agar yang diagungkan itu mesjid yang diramaikan itu mesjid bukan masyhad.

Allah berfirman dalam surat Al-A’rof (7) ayat 29.

ö@è% zsDr& ’În1u‘ ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( (#qßJŠÏ%r&ur öNä3ydqã_ãr y‰ZÏã Èe@à2 7‰Éfó¡tB çnqãã÷Š$#ur šúüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# 4 $yJx. öNä.r&y‰t/ tbrߊqãès? ÇËÒÈ

Artinya :  Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu[2] di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah (9) ayat 18

$yJ¯RÎ) ãßJ÷ètƒ y‰Éf»|¡tB «!$# ô`tB šÆtB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# tP$s%r&ur no4qn=¢Á9$# ’tA#uäur no4qŸ2¨“9$# óOs9ur |·øƒs† žwÎ) ©!$# ( #†|¤yèsù y7Í´¯»s9’ré& br& (#qçRqä3tƒ z`ÏB šúïωtFôgßJø9$# ÇÊÑÈ

Artinya : Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Allah berfirman dalam surat Jin (72) ayat 18

¨br&ur y‰Éf»|¡yJø9$# ¬! Ÿxsù (#qããô‰s? yìtB «!$# #Y‰tnr& ÇÊÑÈ

Artinya : Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah Bayat 114

ô`tBur ãNn=øßr& `£JÏB yìoY¨B y‰Éf»|¡tB «!$# br& tx.õ‹ãƒ $pkŽÏù ¼çmßJó™$# 4Ótëy™ur ’Îû !$ygÎ/#tyz 4 šÍ´¯»s9’ré& $tB tb%x. öNßgs9 br& !$ydqè=äzô‰tƒ žwÎ) šúüÏÿͬ!%s{ 4 öNßgs9 ’Îû $uŠ÷R‘$!$# ӓ÷“Åz óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã ×LìÏàtã ÇÊÊÍÈ

Artinya : Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Kemudian dikuatkan lagi oleh hadits sahih bahwa Nabi pernah mengatakan :

“ sesungguhnya orang yang seblum kamu telah menjadikan kuburan sebagai masjid, oleh karena itu kamu sekalian jangan menjadikan kuburan sebagai mesjid, karena aku melarang hal itu “.

Demikianlah sesungguhnya Allah maha tahu dalam masalah ini. Doa dikuburan atau di tempat lain yang dianggap mustazab dan mempunyai keistimewaan.

Apakah boleh berdoa dalam kuburan? Seperti kuburan orang-orang yang shaleh?. Apakah tempat seperti itu lebih dikabulkan? Dan dimana tempat yang lebih baik untuk berdoa.

Sesungguhnya berdoa di kuburan itu tidak lebih baik daripada berdoa dalam mesjid.[3] Gai Dan jika mereka menganggap kuburan sebagai suatu tempat untuk berdoa selain kepada Allah maka hal itu termasuk syirik. Syirik menurut syara berdasarkan dalil Al-Quran maupun sunah Rasul berarti perbuatan seorang yang telah beriman kepada Allah dengan segala lketentuan di luar petunjuk Allah.[4]

Jadi telah diharamkan untuk menjadikan kuburan sebagai mesjid dan tidak boleh dijadikan tempat beribadah kepada Allah dan juga tempat berdoa kepada-Nya. Bahkan disunahkan kepada orang yang berziarah itu dengan memberikan salam dan mendoakan. Seprti dinjurkan Nabi ketika mau dimakamkan dan mendoakanya. Dan maksudnya disini adalah Nabi menganjurkan untuk mendoakan mayit bukan mohon kepada-Nya. Dan Allahlah yang maha tahu tentang masalah ini.[5]

  1. Ziarah dalam Syariat dan ziarah dalam bid’ah

Ziarah syariat maksudnya adalah memberikan salam kepada mayit dan mendoakannya. Apakah yang meninggal itu Nabi atau bukannya, oleh karena itu kalau para sahabat ing berziarah kepada Nabi mereka mengucapkan salam atau doa untuknya. Kemudian telah diserongkan sehingga banyak orang yang berpaling dari pengertian ini, sampai sekarang hampir tidak seorangpun yang berziarah ke Nabi untuk mendoakannya.

Oleh karena itu Imam Malik dan lain-lain para ulama melarang untuk mengatakan ziarah Nabi. Mereka mengatakan bahwa yang demikian itu adalah bid’ah.

Oleh karena itu para ahli fikih berpendapat bagi orang yang ingin mendoakan Nabi dan memberikan salam kepada beliau tidak perlu menghadap kuburannya tapi menghadap kiblat. Tapi ulama tersebut berbeda pendapat dalam hala mengucapkan salam. Apakah dengan menghadap kiblat atau mengahdap ke kuburan Nabi? Menurut Abu Hanifah menghadap kiblat. Tapi menurut imam malik dan Syafii menghadap ke kuburan Nabi.

Bagi yang harus menghadap kiblat dihubungkan dengan hadits-hadits Nabi yang melarang untuk berziarah ke kuburan dan yang menganggap boleh menghadap kuburan dihubungkan dengan ajaran Nabi untuk mencium hajar Aswad dan memberi salam di sudut Yaman ketika tawaf di Ka’bah.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan :

  1. Ziarah kubur itu di perbolehkan dengan alasan ketika kita ziarah kekuburan orang yang sudah meninggal , baik itu kuburan Nabi atau bukan itu bermaksud untuk mengucapkan salam dan mendoakan orang yang sudah mati tersebut.
  2. Ketika ziarah kubur hendaknya bukan niat untuk melihat atau memuja kuburan dan dijadikan sebagai tempat berdoa kepada-Nya
  3. Alangkah baiknya jika kita ingin mendoakan si mayit di dalam mesjid saja, gak harus pergi mengunjungi tempat dimana di kuburnya.
  4. Dengan adanya menengok kuburan orang yang sudah meninggal, setidaknya mengingatkan kita akan kematian yang tentunya akan menjadikan sebuah tolak ukur dalam menjalani ibadah sehari-hari kita, yang dimana kita juga semua akan merasakanmemasuki alam kubur.
  5. Jangan mengunjungi kubur untuk hal-hal yang musyrik.
  6. Jangan shalat diatas kuburan orang yang sudah meninggal

  1. Saran

Setelah melakukan beberapa analisa dari pembahsan diatas maka kita selaku manusia yang tentunya sangat jauh sekali dari sunnatullah dan masih banyak sekali unsur syiriknya yang terkandung dalam diri kita.

Maka hendaknya kita lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, terutama dalam masalah tauhid banyak sekali yang perlu kita luruskan, sehingga dalam diri kita tidak terjadi unsur kesombongan, sehingga yang akhirnya akan menimbulkan perpecahan dan pertentangan hanya karena masalah aqidah atau hanya berbeda terhadap sebuah kepercayaan yang sekiranya akan menghan curkan umat islam islam itu sendiri.

Untuk masalah ziarah kubur tentunya banyak asekali perbedaan pendapat yang terjadi di berbagai kalangan masyarakat, namun tentunya kita sebagai manusia yang punya akal kita harus pandai memilah dan memilih, kalau sekiranya untuk menyembah atau mengagung-ngagungkan kuburan tentunya itu sebuah kemusyrikan, dan sebaliknya jika hanya untuk mengucapkan salam dan mendoakan atas orang yang sudah meninggal itu hal yang boleh bahkan bisa dikatakan sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas
  2. H Zainuddin, 1996. Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta : PT Rineka Cipta
  3. Rahman, Abdur, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf


[1]   Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan Nasr adalah Nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

[2]  Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah

[3]  A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas

[4]  Rahman, Abdur, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf

[5]  A Darin, dkk. 1989. Meluruskan Aqidah. Surabaya : Al Ikhlas

[6]  Ibid, Hal. 91

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: